Jangan Nyusul Dulu


Siang itu, rentetan tetes air jatuh membasahi siapa saja yang ada di bawahnya. Hujan. Mungkin bagi sebagian orang yang sedang berkumpul itu mengganggu. Kehadiran hujan tidak mengurangi kebahagiaan yang ada di perkumpulan orang tersebut. Hidangan yang tersaji terlihat sangat lezat. Dan memang lezat. Hidangan itu menunjang acara yang diselimuti kebahagiaan itu. Ini adalah pernikahan Zaki, kakak kelasku ketika SD sampai Kuliah, walaupun beda jurusan.

Setelah satu jam lebih mengendarai, lebih tepatnya menumpang, aku dan temanku memarkir motor di sebuah parkiran masjid. Masjidnya tidak terlalu besar. Biasa saja. Namun, tempat di samping masjid tersebut menyebarkan aura kebahagiaan. Tempat  yang mungkin awalnya kosong itu disulap menjadi sebuah tempat pesta pernikahan sederhana. Banyak orang berlalu lalang. Ada yang mengantre untuk salam salaman ke pengantin, ada yang mengantre mengambil hidangan, ada juga juru kamera yang siap mengambil foto siapapun.

“Oke, kita sholat dzuhur dulu aja.” Kataku pada Risko.

“Siplah.” Jawab Risko.

Aku langsung mengambil air wudhu dan segera sholat dzuhur. Seusai sholat dzuhur, aku tak lupa bersapa kepada teman lama yang juga hadir di pernikahan itu. Sejurus kemudian aku dan Risko menuju ke panggung pelaminan untuk bersalaman kepada mempelai.

“Barakallah ya bro..” kataku kepada Zaki sambil bersalaman dan berpelukan.

Matur nuwun yoo” jawab Zaki. Lalu dilanjutkan oleh sang istri.

“Terima kasih ya…” kata Bu Muti kepadaku. Sambil tersenyum mengangguk.

“Ooh ini Affan yaa.. Anaknya Pak Ispranoto ini.” Kata Pak Wiranto sambil bersalaman denganku. Tentu  sambil memberi tahu istrinya. “Kok udah  kurusan?” lanjut beliau.

“Wah, belum kurus ini.” Jawabku sambil tertawa.

“Bentar, bentar, wah iya, kurang ini.” Kata Pak Wiranto sambil melihat perutku. “sudah makan belum?” tanya beliau.

“Belum,  ini baru sampai.” Jawabku.

“Doain Affan, Pak, semoga cepet nyusul Zaki juga.” Kata Risko.

“Jangan nyusul dulu, Fan. Jangan dulu.” Balas Pak Wiranto sambil melambaikan tangan kepadaku. Akupun menuruni panggung dengan tertawa diikuti Risko yang juga sambil tertawa. Dan tentu langsung menuju hidangan yang sudah disajikan.

Barakallahu lakuma, Kak Zaki dan Kak Dinda.

 

Suara Merdu


Kau dengar itu? Suara yang tercipta dari aduan dua logam. Juga dari deru mesin. Juga sesekali dari klakson. Ya. Suara kereta. Aku bilang, ini suara merdu bagi sebagian orang. Mungkin kau tidak menyetujuinya. Aku bilang sebagian, bukan semua. Suara aduan logam antara rel dan roda besi kereta serta deru mesin dan sesekali diikuti klakson panjang dari lokomotif. Satu kesatuan yang merdu. Merdu, bagi mereka yang merindukan kampung halamannya. Merdu bagi mereka yang ingin bertemu sesorang. Merdu bagi mereka yang memang suka naik kereta. Mungkin bagi sebagian orang ini sangat mengganggu. Tapi sebagian orang lain tetap bisa tidur dengan nyenyak. Ah, kau saja mungkin yang terganggu. Coba cek pintu bordesmu. Jika suaranya begitu keras, mungkin pintunya terbuka. Atau, mungkin kau sedang berada di bordes. Terserah kau saja lah. Aku tetap bisa tidur nyenyak di kereta.

Sendirian!


Siapa bilang aku sendiri? Tidakkah kamu lihat, ada penumpang lain di kereta itu? Hei, lihatlah, aku tidak sendiri. Ada aku, penumpang lainnya, mas mas yang bersih bersih, petugas pengecek tiket, dan mbak mbak yang berkata “Pop mie nya nggak ada mas, mau menu lain?” Oke, terpaksa aku menahan lapar sampai stasiun tujuan. Intinya, aku disana tidak sendiri. Hanya saja tidak ada yang menemani.

Mungkin, definisi sendiri menurut orang berbeda beda. Kamu benar ketika melihatku seorag diri di kereta itu tak ada yang menemani. Tapi aku juga benar karena aku tidak benar benar sendiri. Ini hanya masalah pandangan. Ya. Subjektivitas. Membuat orang suka berdebat. Padahal tidak terlalu penting. Tapi, agar kamu tahu, perjalananku kemarin, itu untuk mencari ketidaksendirian. Walaupun kenyataannya aku lebih sering sendirian. Padahal dalam kereta yang penuh sesak.

Check In Counter


Stasiun Tegal kala itu ramai dengan kerumunan orang. Mereka kemungkinan hendak pergi ke Jakarta atau sekitarnya. Bukan sok tahu, karena memang jam segitu adalah jadwal kereta dari stasiun tegal menuju Jakarta. Jam 14.30 keretaku berangkat menuju Jakarta.

Jam dua lebih aku baru sampai ke stasiun. Aku yang diantar pamanku saat itu langsung menuju mesin Check In Counter. Mesin ini berfungsi untuk mencetak boarding pass para calon penumpang untuk masuk ke dalam kereta. Untuk mencetak tiket tersebut, calon penumpang harus memiliki kode booking atau kode pembayaran.

Mesin Check In Counter di Stasiun Tegal hanya ada dua. Tidak sebanyak di Stasiun Pasar Senen. Aku memilih salah satu mesin tersebut dan memasukkan kode booking. Dan setelah itu, aku menyentuh tulisan ‘SEARCH’ di layar mesin tersebut. Tapi tidak muncul apa – apa. Kucoba untuk menyentuh lagi. Tapi hasilnya nihil. Sampai akhirnya petugas stasiun yang berada di dekat situ berbicara, “Pakai mouse, Mas…”

“Ooh,” sambil memegang mouse dan mengklik tulisan ‘SEARCH’. “Maaf, Pak. Saya kira layar sentuh kaya di stasiun lain.” Timpalku melanjutkan setelah ber-ooh. Langsung saja, tiket keluar dan aku bergegas masuk ke peron stasiun.

Sore Jalan Pandawa


Sore itu, kala para siswa bersiap untuk pulang, ada beberapa siswa yang berniat untuk tetap di sekolah terlebih dahulu. Sambil duduk duduk dipojokan teras masjid sekolah, mereka belajar untuk persiapan ujian. Entah belajar atau hanya ngobrol biasa. Hanya ada segelintir siswa yang disitu, tidak lebih dari sepuluh orang.

“Eh, beli makanan dong. Apa kek. Patungan dong.” Kata salah seorang diantara mereka.

“Iya, beli makanan lah yuk. Laper nih gue.” Timpal siswa yang lain.

“Yaudah siapin dulu aja duitnya. Ntar gue yang beli. Riq, pinjem motor lo ya, Zul temenin gue ya.” Kata salah seorang siswa bernama Ilzam.

“Oke, Zam.” Balas Affan.

Tidak lama setelah itu, uangpun terkumpul dan Ilzam pun langsung berangkat. sembari meunggu, mereka melanjutkan kegiatan belajar mereka. Sejurus kemudian, terdengar rentetan tetesan air yang jatuh ke atap masjid. HUJAN!

“Eh, si Ilzam gimana ya? Kehujanan pasti dia.”

“Yaudahlah, paling juga basah.”

Awalnya hujan memang turun deras. Tapi itu tak bertahan lama, hujan mulai menunjukkan keramahannya. Rintik rintik air hujan masih menghiasi langit sementara terdengar suara motor dengan seorang siswa yang menggunakan seragam lengkap dalam kondisi basah. Setelah memarkirkan dan mematikan mesin motor, Ilzam datang dengan sebungkus plastik berisi makanan yang telah dia beli.

“Nih makanannya, gue sampai kehujanan nih.” Kata Ilzam sambil memberikan bungkusan tersebut kepada teman temannya.

“Ya sorry, Zam. Gue kan gatau kalo bakal hujan. Lagian lo sendiri yang mau berangkat.” balas Affan sambil menertawakan Ilzam yang basah kuyup.

Hujan mulai reda. Hanya menyisakan genangan – genangan di halaman sekolah. Terdengar juga gesekan sepatu dengan paving halaman sekolah dari beberapa siswa yang tadi tertahan di sekolah karena hujan. Ilzam masih berada di luar area masjid sekolah. Sambil memegang – megang bajunya yang basah. Tiba tiba seorang ustadz datang.

“Assalamualaikum. Wah para pejuang sedang belajar nih.” Salam dari seorang ustadz.

“Waalaikumussalam. Iya nih Tadz.” Balas para siswa sambil bersalaman dengan sang ustadz.

“Zam. Kok basah? Mumpung kamu sudah basah, sekalian antar saya ke rumah bisa ya?” tanya ustadz pada Ilzam.

“Bisa, Tadz.” Balas Ilzam yang kemudian kembali mengambil motor dan segera mempersilahkan ustadz untuk naik ke motor. Kemudian mereka berdua hilang dibalik gerbang sekolah.

Siswa yang lain masih tetap berkutat pada buku tebal yang mereka bawa. Terlihat para ustadz dan ustadzah pulang meninggalkan sekolah dengan motornya masing – masing sambil menyapa mereka yang sedang belajar di pojokan teras masjid. Kemudian terdengar kembali suara motor dengan Ilzam sebagai pengendaranya. Setelah memarkirkan motor, dia menuju teras masjid.

“Nih Riq, motor lo.” Sambil melemparkan kunci motor ke arah Thoriq. “Fan, pulang yuk. Gue kedinginan nih. Baju gue basah kuyup.” Kata Ilzam kepada Affan.

“Yaudahlah yuk pulang.” Balas Affan sambil kemudian merapikan buku lalu memasukkan ke dalam tas.

“Fan, gue malah jadi ga belajar nih. Belum dapet satu soalpun hari ini gara gara kudu beliin lo makanan sama nganterin ustadz.” Kata Ilzam sambil berjalan berdua bersama Affan menuju parkiran motor.

“Jadi lo ga ikhlas nih?” balas Affan.

“Bukan ga ikhlas sih. Hehe.”

“Gini Zam,” sambil menoleh kanan kiri memastikan tidak ada kendaraan lewat “lo liat ga, berapa orang yang udah lo buat seneng? Ya mungkin lo basah kuyup dan ga dapet kesempatan ngerjain soal. Tapi liat sisi lainnya, lo beliin gue makanan sama bisa nganter ustadz balik ke rumahnya. Jadi bukan seberapa banyak lo bisa ngerjain soal, tapi lo bisa bermanfaat buat orang lain. Itu yang lebih baik.” Timpal Affan sambil menyebrang jalan menuju tempat parkir siswa.

“O iya, bener juga lo.” Kata Ilzam mengiyakan.

“Coba kalo lo cuma duduk ngerjain soal. Mungkin bisa banyak soal yang lo kerjain, tapi itukan buat lo sendiri. Ga buat orang lain.” Lanjut Affan.

Kedua siswa itu segera naik motor butut milik Affan dan segera menghilang dibalik gerbang parkiran siswa menuju tempat tinggal masing – masing.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain (Nabi Muhammad SAW)

 

Sholat di Kereta


Ini pengalaman gue waktu perjalanan dari Jakarta ke Solo. Gue naik kereta Progo relasi Pasar Senen – Lempuyangan. Ntar gue turun lemuyangan trus lanjut pake Prameks trus turun di Purwosari. Gue ke Solo karena ada urusan yang harus diselesaikan saat itu. Itu keadaannya pas libur. Liburnya Cuma sehari pula. Yaudah deh. Oiya, harga tiketnya 75 ribu doang (sekarang 125 ribu bos). Kereta ekonomi AC tempat duduknya 3-2.

Gue berangkat dari stasiun pasar senen kira kira jam 22.30. Keadaan kereta yang gue naikin penuh. Kemungkinan ga ada kursi yang kosong. Oiya, kereta ekonomi tempat duduknya berhadapan dan saat itu bener bener penuh. Samping sama depan gue satu keluarga. “Permisi mas..” kata salah seorang diantara mereka. “Oh iya, silakan..” kata gue setelah itu.

Setelah mereka selesai dengan kegiatan mereka, mereka duduk sesuai nomor di tiket mereka. “Mas, turun mana mas?” kata salah seorang. “Turun Lempuyangan saya Bu.” Jawab gue spontan. “Ibu turun mana?” tanya gue balik. “Turun Kutoarjo mas.” Jawab ibu ibu tersebut. Okelah sedikit basa basi. Setelah itu gue memutuskan buat segera tidur. Posisi gue di deket jendela, jadi gue bisa nyenderin kepala gue di dinding kereta. Gue emang suka deket jendela. Selama masih ada yang kosong di deket jendela, gue pilih disitu. Hehe

Setelah menempuh berjam jam perjalanan, udah mau deket di Kutoarjo. Mereka yang tadi duduk deket gue udah pada siap siap. Waktu itu udah subuh juga. Dan gue bingung mau sholat gimana. Karena mereka masih sibuk buat siap siap turun dan posisi gue membelakangi kereta. Gue juga gaenak kalo sholat dan di depan gue ada orang. Yaudah gue tunggu aja dulu sampe mereka turun.

Duh gimana ini sholatnya. Gue bingung. Buruan sampai Kutoarjo dan mereka buru turun. Itu yang ada di benak gue saat itu. Haha. Akhirnya kereta berhenti di Kutoarjo dan mereka bergegas turun dari kereta. Setelah beberapa saat, kereta tersebut jalan dan gue langsung pindah posisi ke kursi depan gue yang mengarah searah sama arah jalannya kereta. Segera aja gue sholat. Kondisi saat itu udah agak terang. Kira kira jam setengah 6 deh gue baru sholat subuh. Astaghfirullah. Gue sendiri juga bingung, kalo kondisi seperti tadi itu sholatnya kaya gimana. Hehehe. Apa gue perlu post tips sholat waktu di kereta ya? Wkwkw. Ntar ah.

Salah Lihat Jadwal Ujian


Saat itu, IPB sedang masa Ujian Akhir Semester genap jadi seluruh mahasiswa yang masih kuliah di IPB lagi ujian termasuk gue. Hari senin, 13 Juni 2016 hari pertama gue UAS  dengan mata kuliah Unggas. Setelah ujian, sore hari gue mau siap – siap buat belajar dan gue kira hari selasa itu jadwalnya Rumbes. “Lah, besok ujian daging? Baru ngerti gue.” Kata gue saat itu. Gue belum liat full jadwalnya sih. Untungnya gue jadinya belajar daging bukan rumbes. Tapi, gue ga liat waktu pelaksanaan ujiannya. Gue yakin bener jam 10.30 ujiannya. Entah gue yakin aja. Liat di jadwalnya gitu soalnya.

Keesokan paginya, habis sahur dan sholat subuh gue belajar lagi. Review review dikitlah. Karena ngantuk, gue putuskan buat tidur. Ga lupa juga gue pasang alarm jam 7, jam 8, sama jam 9. Gue tidur karena gue yakin ujiannya jam 10.30. Skip. Gue bangun trus mandi, sholat dhuha, review lagi materinya, trus jam 10 pas gue berangkat ke fakultas. Untung jarak gue tinggal ama fakultas ga jauh jauh amat. Jad ga keburu buru.

Gue berangkat naik motor. Pas didepan parkiran, gue liat temen temen sekelas gue. Tapi aneh. Mereka jalannya bukan arah masuk ke gedung tapi malah pada ke parkiran. Gue udah tegang tuh. “Duh, jangan jangan ujiannya jam 8 lagi..” Sambil lanjut markirin motor gue. Continue reading

Api Itu Tak Kunjung Padam (Bagian 3-Habis)


“Apa? Kamu tidak tahu. Aku sudah berkali kali dimarahin orang orang karena api itu. Dan sekarang api itu masih ada. Kenapa kamu harus pergi dulu? Kamu pergi atau tidak, tetap saja aku yang dimarahi terkait api itu.” Jawab Arfa.

“Maafkan aku, Arfa. Sudahlah. Ini sudah terjadi.”

“Jadi sekarang kamu masih mau bersama dia di perapian itu?” tanya Arfa

“entahlah. Aku tidak tahu. Aku juga belum bisa. Api itu masih ada sekarang.”

“kenapa begitu? Kenapa waktu denganku kau bisa pergi begitu saja? Kenapa sekarang berbeda? Api yang dia buat lebih hangat kah?”

Diam. Kedua insan itu diam. Hanya suara burung berkicau dan hembusan angin yang melewati pohon terdengar di telinganm mereka.

“Hei, kenapa diam Muaza? Kenapa tak kamu jawab pertanyaanku? Apa pertanyaanku tidak penting?” lanjut Arfa karena tidak mendapat jawaban dari Muaza.

“Aku tidak mengerti. Aku sudah nyaman berada di perapian itu.” Jawab Muaza

“Hmm..” Arfa menghela nafas “Muaza, tidak ingatkah kamu dulu, siapa yang memulai? Siapa yang dulu membakar kayu kayu bakar itu? Tidak ingatkah kamu? Lalu, sekarang aku yang harus memadamkan semuanya. Sendirian. Dan kamu udah membuat perapian bersama orang lain. Aku tidak ingin kamu mengulanginya lagi, Muaza. Aku seperti ini karena itu. Karena aku tidak ingin kamu mengulanginya lagi. Itu saja. Aku masih mencoba memadamkan api itu. Sekarang, apakah aku harus membuat api bersama orang lain sepertimu agar api yang kita buat padam sendiri? Haruskah aku begitu?”

“Jangan Arfa. Jangan seperti itu.” Jawab Muaza sambil meunduk.

“Lalu kenapa kamu melakukannya? Sedangkan aku kamu larang untuk melakukannya? Kenapa? Dan sampai kapan kamu akan bersama dia di perpian itu? Aku pun tak mengerti sampai kapan api yang kita buat bisa padam.” kata Arfa.

“Aku tidak mengerti, Arfa. Aku tidak mengerti. Beri aku waktu untuk menyelesaikannya sendiri. Aku belum baik saat ini. Aku belum bisa kembal ke diriku yang dulu. Tapi percayalah. Aku akan kembali ke diriku yang dulu. Jangan menyudutkanku. Nanti aku semakin tertekan.” Kata Muaza sambil balik badan dan pergi meninggalkan Arfa yang hanya bisa menatap kepergian Muaza. Muaza menghilang dibalik pepohonan.

Sepi. Hanya angin berhembus dan kicauan burung yang terdengar. Arfa segera meninggalkan tempat itu setelah Muaza meninggalkannya. Dan Arfa masih berfikir bagaimana caranya agar api itu cepat padam. Bahkan air pun tidak kuat untuk memadamkannya.

*Fiksi tapi based on true story hahaha.

Api Itu Tak Kunjung Padam (Bagian 2)


Sebulan berlalu, Arfa masih berusaha memadamkan api tersebut. Masih besar. Api itu masih besar. Tak kunjung padam. Sudah banyak orang yang memarahinya. Belum lagi dia masih teringat tentang Muaza. Suatu hari, dia mendengar bahwa Muaza telah membuat api lagi dengan orang lain. Apinya lebih besar dan lebih hangat dibanding api yang pernah dia buat bersama Arfa. Kecewa. Itu yang ada di hati Arfa. Bagaimana tidak? Bukankah dulu Muaza meninggalkan Arfa karena takut api yang mereka buat semakin besar? Belum juga api yang dia buat bersama Arfa padam dia sudah membuat api lagi bersama orang lain.

“Kek, kenapa Muaza dan orang itu tidak diperingatkan seperti aku dan Muaza ketika kami membuat api dahulu? Aku sudah berkali kali dimarahin oleh orang yang berbeda terkait api itu. Mengapa mereka tidak ada yang memarahi?” Protes Arfa terhadap Kakek. Continue reading

Api Itu Tak Kunjung Padam (Bagian 1)


Saat itu Arfa hanya membawa kayu bakar. Arfa tak punya api. Saat itu memang dingin. Dingin hingga menusuk tulang rusuk siapapun yang dilewati angin yang berhembus dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Dia kedinginan saat itu. Dingin sekali. Tubuhnya menggigil kedinginan. Jaket yang sudah dia pakai tidak membantu menghangatkan tubuhnya. Namun dia tidak sendirian saat merasa kedinginan Ya, tidak sendiri.

Lalu, ada yang datang ditengah suasana dingin itu. Menyapa dengan lembut. Membicarakan tentang suasana saat itu. Saat itu ternyata Muaza juga kedinginan. Arfa hanya membawa kayu bakar. Muaza mengeluarkan sebuah korek api lalu membakar beberapa bagian dari kayu bakar yang Arfa bawa tadi. Kayu itu memerah. Berwarna merah api. Belum semuanya memang. Arfa sempat ragu dan berfikir kalau api ini akan menjadi besar. Tapi fikiran itu hilang karena kehangatan dari api yang telah menyala. Hangat. Nyaman. Hawa dingin berangsur angsur hilang darinya begitupula Muaza. Continue reading